Terpisah

on
10/04/2014
Satu hari tiada kabarmu, membuat hariku sedikit jemu.
Semua tentang jarak.
Ribuan kilometer tapi semua terasa dekat.
Yang mendekatkan adalah rasa rindu, rasa rindu yang tak semu
Satu hari tanpa cerita darimu sudah membuatku gelisah, takut dirimu lupa, lupa merindukanku.
Semua tentang perasaan yang bergelut dengan jarak, tersiksa oleh rindu.
Siksa yang selalu dinikmati dan membuat hari hari lebih ingin cepat dilalui, berharap menemui.
Rindu, yang membuat indah suatu kenangan.
Aku rindu, bolehkah rindu kita saling bertemu, disebuah ruang bernama keabadian?
-Doddy Rakhmat-
Doddy Rakhmat dan Tulisan Abstraknya.
#PuisiHariSabtu #PartnerInWrite

Mekkah Untuk Ayah.

on
10/03/2014
Impian selama belasan tahun kini sudah didepan mata, menyentuh Ka'bah, mencium Hajar Aswad.
Pak To dengan segala usahanya menuju Tanah Suci. Menitikkan air mata haru, merasa menjadi hamba yang tidak ada apa-apanya di tanah Suci, mengucap doa doa yang tiada henti dari bibirnya yang sudah kering. Tangis sesenggukan dalam setiap tawaf.
Semua perjalanan ke Tanah Suci ini berawal dari usaha Jujun anak Tunggal Pak To. Ia bekerja siang malam, mengambil lemburan, bahkan di hari libur pun dia bekerja. Bekerja di kantor akuntan sampai sore, malam menjadi pelayan di restoran sudah dilakoni Jun bertahun tahun.
Semua itu karena Mekkah Untuk Ayah. Cita cita suci untuk membahagiakan orang tuanya. Dengan menyempurnakan Ibadah sebagai seorang Islam, Ibunya yang telah tiada menjadikan Jun sebagai pengurus Ayahnya juga. Dengan menunggu giliran haji bertahun-tahun, akhirnya sampailah giliran Pak To.
Jun melepas Pak To dengan ikhlas beribadah ke Tanah Suci, apapun risikonya. Impian seorang anak untuk sang Ayah. Mengajarkan kita mencari berkah di muka bumi ini. Bangun tujuan hidupmu!
-Doddy Rakhmat-
Doddy Rakhmat dan Tulisan Abstraknya
#CeritaMini #PartnerInWrite #EdisiJumatReligi

Impian Nek Minah

Hari masih buta, fajar masih berselimut malam yang pekat. Tepat pukul tiga, usai melaksanakan sholat tahajud dan sholat hajat, ia bersiap berbelanja. Letak pasar pagi tak begitu jauh dari kediamannya, ia biasa menempuhnya dengan berjalan kaki.
Namanya Nek Minah, usianya baru setengah abad. Namun kesulitan hidup yang menjeratnya membuat ragawinya terlihat lebih tua dari usianya, ia sudah mulai renta. Usai berbelanja sesuai yang dibutuhkannya, Nek Minah lekas menuju rumah. Karena bada subuh ia harus sudah menjajakan dagangannya.

Adzan subuh telah berkumandang, Nek Minah bergegas mengambil air wudhu dan menggelar sajadah. Ia tunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba, bersujud pada Yang Maha Kuasa. Usai sholat, Nek Minah segera mengambil barang dagangnnya. Sudah lebih dari sepuluh tahun Nek Minah berjualan bacang, makanan yang hampir mirip dengan lontong namun berisi daging dan berbentuk segitiga. Nek Minah menjual per potongnya tiga ribu rupiah.

Nek Minah berjualan berkeliling sebuah perumahan tak jauh dari kampugnya. Ia berteriak dan menawarkan dari rumah ke rumah.

"Bacang. Bacang. Bacang."


Di zaman modern seperti ini, sudah tak banyak yang menjadikan bacang sebagai menu sarapan. Para orang kaya berduit biasanya sarapan dengan roti. Sehingga tak setiap hari, bacang buatan Nek Minah habis terjual.

Sejak dulu, Nek Minah selalu menyisihkan uang yang ia dapat dari hasil berjualan bacang. Meski hanya seribu dua ribu per harinya, Nek Minah tetap menabung. Karena ia punya satu mimpi, ia ingin berqurban.

Hasrat ingin berqurban semakin menggebu. Nek Minah ingin segera mewujudkan mimpinya. Meski ia hanya seorang pedagang bacang keliling, namun ia ingin bisa membelanjakan hartanya di jalan Allah, dengan berqurban. Perlahan, Nek Minah menghitung uang tabungannya. Wajahnya cemas, ia khawatir tak mampu berqurban karena tabungannya tak mencukupi. Namun akhirnya Nek Minah tersenyum sumringah, uang tabungannya cukup untuk membeli dua ekor kambing. Maka bergegaslah Nek Minah menuju tempat penjualan hewan qurban. Ia memilah milih kambing untuk diqurbankan. Setelah memilih, Nek Minah meminta pada penjual kambing untuk dikirimkan ke masjid di desanya. Nek Minah senang sekali, ia tak berhenti mengucap syukur. Ia telah mampu mewujudkan mimpinya, berqurban atas nama dirinya dan almarhum suaminya.



Saidah
#CeritaMini #PartnerInWrite #EdisiJumatReligi

Tanya Hatiku.

on
10/01/2014
Pesonamu, menggetarkan rasaku.
Kauu punya semua, semua yang menyamankanku.
Aku terbang bersama puluhan gemintang, terpaut di atas langit. 
Sulit, mampukah aku memalingkan rasamu hingga tertuju padaku?
Maafkan aku, mencintaimu tanpa kau tahu.
Maafkan aku, mengharapkanmu tanpa permisi.
Bersama segala harap, bersama segala mimpi. 
Ku rengkuh kamu dalam doaku. Menatapmu dalam imaji. 
Memujamu dalam hati. 
Adakah aku istimewa di hatimu?
Tanya hatiku.

-



Saidah
#PuisiHariRabu #PartnerInWrite

Tersesat.

Pagi itu, berbaring diatas hamparan rumput, menikmati aromanya yang begitu familiar.
Aroma pagi berselimut embun.
Memandangi hamparan birunya langit, mencari awan bergambar dirimu.
Ah, perasaan ini.
Aku tersesat di dalam perasaanku sendiri.
Bertanya-tanya. Mencari jawaban yang sudah aku tahu sebenarnya.
Perasaan ini, sungguh tak kumengerti. Tiba-tiba ia datang, tapi tak ingin pergi begitu saja.
Perasaan tersesat dalam hati adalah perasaan rumit yang selalu kunikmati. Setiap detiknya.
Setiap hembus nafasnya.
Biarkanlah aku tersesat.
Tersesat dalam hatimu. Dan tak ingin terbebas dari itu.
-Doddy Rakhmat-
Doddy Rakhmat dan Tulisan Abstraknya
#PuisiHariRabu #PartnerInWrite