Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Sebuah Tanya

on
2/04/2015
Bagaimana kau merasa bangga, akan dunia yang sementara.
Bagaimanakah bila semua, hilang dan pergi meninggalkan dirimu?


Mengapa banyak manusia yang begitu keras berjuang demi mewujudkan mimpi-mimpinya. Namun di saat yang sama terkadang mereka begitu ringkih dan rapuh dalam pemahaman agama?

Banyak orang yang ketika tersungkur dalam lara, ia tak absen untuk terus berupaya. Hingga ia mereguk bahagia dalam pandangan manusia. Namun kenapa? Ia tak menyadari terkikisnya iman yang harus terjaga dalam hati. Yang setiap hari seharusnya diperbaharui. Yang setiap hari harusnya dijaga hingga mati, bukan dibiarkan mati.

Tak sedikit yang berlomba untuk mengejar gelar dunia. Mencari ilmu hingga ke negeri china. Itu tak salah sebenarnya, namun kenapa ilmu agama yang seharusnya utama selalu diesok-esok?
Apakah keduanya berbeda sehingga tak dijalankan di saat yang sama?
Apakah begitu sulit dan rumit perkara agama hingga belajarnya menunggu tua?
Mengapa kamu selalu memikirkan apa yang telah Tuhan beri? 
Tak cukup buktikah hari ini kamu bisa bernafas dan beraktivitas sebagai nikmat yang luar biasa?
Mengapa kamu memikirkan nanti? Bagaimana nanti terjadi jika hari ini saja kamu lalai benahi?


Bukan maksudku menggurui, ini hanya bentuk perenungan diri. Sebab aku mudah lupa dan menulis membuatku ingat bahwa aku pernah ada di titik ini.



Saidah

Sebab, Kita Hamba

on
1/28/2015

Begitu sederhana namun terlihat perkasa. Rela berjalan di pagi buta, tengah hari, atau di waktu istirahat setelah lelah bekerja. Jam sibuk tak dijadikannya alasan untuk menunda. Sebab ia paham betul bahwa sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah swt.


Yang dikagumi dari sosoknya, bukan pada penampilannya yang agamis. Namun pada pribadinya yang selalu merasa bodoh dan haus ilmu. Hingga terpancar cahaya hati yang meneduhkan. Bicaranya selalu terjaga, tentang yang patut dan tak patut disampaikan. Pergaulannya pun merata, bukan mengakrabi secuil golongan yang terlihat seirama. Ia merangkul semua. Memetik pelajaran baik, memperbaiki yang keliru, menepis bisikan sesat. Sebab ia sadar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.

Ia tak sempurna. Dibalik kharismanya, tersimpan cacat cela serta aib karena perjalanan hidupnya. Setiap waktu, senantiasa ia perbaiki langkahnya yang kadang tak lurus. Ia perbaiki tingkahnya yang kadang tak bagus. Ia perbaiki ibadahnya yang masih minus. Semata hanya mengharapkan ridho Illahi atasnya, bukan pada penilaian manusia.

Sebab kita hamba, maka bersikaplah selayaknya hamba.



Saidah

Pahami Aku!

on
1/17/2015

Termenung...
Rasanya tak karuan. 
Jika saja bisa membelah jiwa, aku mungkin orang pertama yang akan melakukannya.
Jika saja bisa memilih watak, aku akan memilih yang tak jauh dari malaikat.
Tapi,

Aku manusia. Manusia biasa. Tak sempurna.

Halooo bloggers! 
Aku bingung mau memulai ini dari mana, yasudah dari puisi saja lah. Hehehe :D

Kamu pernah gak sih ngerasain rasanya 'menyesal' melakukan sesuatu dan rasanya mau marah sama diri sendiri ?
Aku pernah. Dan masih sampai saat ini.


FYI aja, aku orangnya kalo dibaikin akan lebih baik, tapi kalo dijutekin aku juga akan lebih jutek lagi balesnya. Itu refleks, gak pernah sengaja pengen kaya gitu. Yang sedihnya kalau mamaku lagi 'nasehatin' aku dengan nada yang tinggi, aku refleks ngomong tinggi juga ke mama. Hiks hiks ... Dan itu rasanya gak enak banget. Sedih banget. Ujung-ujungnya pasti selalu minta maaf sama mama, sungkem, peluk cium mama, sambil nangis deh.

Lambat laun aku belajar untuk lebih ngontrol emosi, biar gak cepet meledak walau situasi lagi panas. Belajar 'diam dulu', belajar dengerin dulu meskipun mulut rasanya pengen ngomong ngebela diri.
Alhamdulillah sekarang jauh lebih baik dalam mengontrol emosi, meskipun gak selalu berhasil juga sih.

Awalnya, sempet kaya orang frustasi. "Kenapa sih Allah ngasih sifat ini ke aku? Aku tuh mau jadi anak baik, kalem, sholehah, yang bagus bagus deh. Gak mau kayak gini. Dan bla bla bla". Terus nangis di bawah selimut, dada rasanya sesak. Ada sesuatu yang... Ya gitu deh.

Akhirnya aku gelar sajadah, sholat taubat, doa sama Allah. Apapun masalah kita, jangan cari siapapun, jangan cari manusia manapun, cukup cari Allah. Dan itu bener banget. Puas banget nangis dan hati rasanya plong.

Semua sifat pada dasarnya baik, seberapa besar kadarnya dan cara kita 'nempatin' hal itu yang kadang jatuhnya jadi kurang baik atau malah gak baik.

Contohnya kaya gini (maaf ya kalo sotoy); jadi orang penakut itu baik. Kok baik? Ya asal kita bisa nempatin harus takutnya sama siapa dan segimana besar kadarnya?

Mind set itu berpengaruh loh sama sikap kita. Makanya aku selalu mencoba untuk selalu bahagia dengan selalu berpikir positif. Dan itu berguna banget buat keseharian kita.

Pahami aku! Aku, dirimu sendiri.
Kenali aku! Aku, bagian dari dirimu.
Cintai aku! Bahagialah bersamaku!





Saidah


Isi blog ini sedang diikutkan giveaway echaemutenan

TENTANG MENERIMA

on
9/03/2014
Terkadang apa yang kita mau tak selalu mampu kita dapatkan…
Terkadang apa yang tidak kita inginkan harus kita jalani dengan berat hati….
Dan terkadang semua hal itu membuat kita lalai dari rasa syukur dengan apa yang sudah Allah swt beri …..
Lalu sikap terbaik apa yang harus kita tunjukan?
Ego  manusia terkadang menghantarkan kita terhadap ambisi untuk mampu mendapatkan apapun yang kita inginkan bagaimanapun caranya.
Salahkah jika kita memilih untuk ‘pergi’ dari apa yang tidak kita ingini menuju sesuatu yang mampu kita nikmati perjalanannya?
Hidup itu penuh teka-teki.
Kita tidak pernah tahu akan masuk dalam sebuah dimensi hidup yang seperti apa..
Menerima dan merasa beruntung dengan berucap syukur lebih baik adanya…
Mungkin itu sikap pertama yang harus kita tunjukan sebagai manusia..

…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu dan  Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al – Baqarah (2) : 216)



Saidah



TENTANG AKU DAN TUHANKU.




Aku bukan siapa-siapa.
Aku hanya manusia yang hina dan tak berdaya
Aku tak punya apa-apa
Aku tak mampu membanggakan apa yang ada
Aku ini kecil, kerdil. Aku tak punya kuasa apapun di bumi yang ku pijak
Keberadaanku, kepunyaanku, hanya sementara.
Aku tak lebih dari manusia yang dipinjami banyak nikmat oleh Tuhan.
Semua yang ada tidak abadi. Semua yang ada bisa saja kembali kapanpun Sang  Maha Memiliki memintanya.
Patutnya aku bersyukur, karena Tuhan Yang Maha Baik meminjamkan apa yang ku ingin dan memberi yang ku butuh.
Namun lebih banyak aku mengeluh dan mendikte Tuhan untuk memberi apa yang ku ingin, memberi kesenangan duniawi.
Hingga aku lupa diri. Hingga aku tenggelam dalam permainan dunia yang mengelabui hati.
Sampai akhirnya aku terjatuh. Jatuh dalam kenistaan yang ku buat sendiri.
Jatuh dalam angan yang tak bertepi, hingga aku merasa tak ada pegangan lagi.
Dan Tuhan menunjukan kuasa-Nya. Dan Tuhan menunjukan keperkasan-Nya.
Dan Tuhan memberika rahmat-Nya. Dan Tuhan menolong hamba-Nya.
Aku bangkit meski rapuh, mencoba berjalan meski tertatih.
Aku sadar selama ini telah lari dari yang seharusnya ku cintai.
Aku berpegang pada tiang yang salah. Aku bersandar pada yang tak pasti.
Seharusnya dari dulu ku sadari tentang keberadaan-Nya,
hingga ku pelajari tentang keesan-Nya.
Karena memang hanya Ia,
 Tuhan Semesta Alam yang mampu memberi dan mengambil kembali.



Saidah