Oh Allah, Aku Ingin Hijrah Karena-Mu

on
10/22/2015
Don't be afraid of change. You might lose something good, but you'll gain something better. - unknown.
Kadang kita tahu kita harus berubah. Tetapi kita memilih diam karena terlalu takut kehilangan atau takut menyesuaikan diri dengan hal baru. Namun, hidup memang pilihan dan pilihan selalu bersama dengan resiko.
Beberapa bulan yang lalu, aku sempat menulis tentang 'Hijrahmu sudah sampai mana?'. Disana aku bercerita tentang muslimah yang menginspirasiku untuk bergerak ke arah lebih baik. Jika mereka saja bisa memilih pilihan yang benar dengan resiko yang mungkin jauh lebih besar, kenapa aku tidak bisa?

Berhari-hari aku berpikir tentang hijrahku. Sempat merasa sudah cukup dengan apa yang telah aku lakukan. Dalam pikirku saat itu, dengan berhijab saja aku sudah merasa baik. Setidaknya aku sudah melaksanakan satu kewajiban yang Allah perintahkan untuk muslimah. Meski hijabku sebenarnya masih jauh dari syar'i, sangaat jauh. Aku masih memakai celana jeans yang membentuk kaki, kerudungku kadang masih belum menutupi dada, dan aku tidak memakai kaus kaki. Saat itu aku merasa itu sudah cukup. Tetapi ternyata aku salah. Aku memang melaksanakan perintah Allah tetapi aku masih mengabaikan aturan-Nya. Tak ku sadari selama ini aku telah angkuh.

Sempat terpikir tentang penilaian manusia, terlebih tentang bagaimana reaksi teman-temanku nanti ketika melihatku bergamis dan berhijab panjang? Tak ku pungkiri, ada kekhawatiran takut ditinggalkan. Ada kekhawatiran takut mereka menganggap aku bukan lagi teman yang asyik diajak main atau sekedar bertukar cerita. Dan lagi lagi aku keliru. Seharusnya takutku berganti objek. Jika aku bisa merasa takut dijauhkan teman, mengapa tak terbesit rasa takut ditinggalkan Allah? Pun jika memang akhirnya temanku akan menjaga jarak denganku, aku jauh lebih sanggup menghadapinya. Daripada Allah yang menjaga jarak dariku karena aku tak jua mematuhi perintah-Nya.

Dan malam itu aku memutuskan untuk memulai hidup baru. Gerimis gerimis di mataku mulai menderas. Beberapa ingatan silih berganti menghampiri sekotak memori di kepalaku. Ada perasaan bersalah di hatiku, mengapa tak dari dulu memutuskan untuk memakai gamis dan jilbab panjang menutupi dada. Padahal sudah sedari dulu Papa menasehati perihal pakaian bagi muslimah. Sudah sedari dulu Papaku memintaku meninggalkan jeans-jeans ketatku. Sudah sedari dulu Papaku memintaku untuk memakai baju terusan panjang (gamis). Sudah sedari dulu Papaku memintaku untuk mengenakan jilbab bukan hanya saat sekolah. Sudah sedari dulu. Sedari aku duduk di bangku SMP, terlebih setelah aku telah akhil baligh Papa semakin gencar menasehati.

Sekejap, tiba-tiba rasa rindu hadir. Rindu kepada sekolahku. Rindu diajarkan guru-guruku tentang agama. Rindu hafalan Al-Quran. Rindu sholat berjamaah. Rindu membaca Al-Quran sebelum memulai pelajaran. Rindu mentoring seusai sekolah. Aku rindu semuanya tentang sekolahku. Aku rindu! Ternyata, hidayah Allah itu dekat. Hidayah Allah ada di sekelilingku. Bertahun-tahun Allah mendekatkanku dengan jalan hijrah, tetapi aku tetap bergeming. Bertahun-tahun Allah menungguku menyadari semuanya. Menyadari bahwa hidayah yang katanya ku tunggu sebenarnya telah ada di depan mataku, menanti aku membuka mata dan hati untuk menerima kedatangannya. Bertahun-tahun Allah menungguku dengan sabar. Ilmu telah IA berikan melalui perantara orang tua dan guru, tetapi aku masih saja diam seolah tidak tahu sedikit pun tentang taat pada-Nya. Astagfirullah.

Hidup baruku dimulai. Baru saja dimulai. Seluruh kaos, jeans, dan pakaianku yang dulu tak lagi terlihat di lemari. Semuanya berganti gamis dan kerudung panjang. Di hari pertama aku mengenakan pakaian syar'i, Mamaku sempat heran dan menganggap aku memakainya hanya saat Ramadhan. Keluargaku pun berpikir demikian. Namun, lambat laun mereka mulai yakin pilihanku ini tak sepintas lalu. Meski tak terucap, raut wajah orang tuaku menunjukan rasa bahagia. Mungkin dalam lubuk hati, mereka merasa lega karena ternyata apa yang seringkali mereka sampaikan tidak sia-sia. Nasihat itu kadang memang terdengar menyebalkan, tetapi ia menyelamatkan.

Teman, tolong jangan keliru. Berhijab bukan sebuah akhir yang menyempurnakan. Tetapi awal dari sebuah perubahan. Dari berhijab, inshaAllah kamu akan mampu melihat sesuatu dengan lebih baik dan selalu berkeinginan untuk menjadi lebih baik. InshaAllah. Jadi jangan tunggu hatinya dulu ya. Mengutip perkataan Ust. Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang bahwa hukum wajibnya jilbab adalah adanya ayat Allah QS. Al Ahzaab ayat 59. Sedangkan hikmahnya, di antaranya yaitu lebih mudah dikenali sehingga tidak diganggu. Sekalipun hikmahnya hilang, hukum tetap ada.

Yuk, kita coba buka mata dan hati kita agar bisa lebih peka pada hidayah Allah. Bisa jadi, hidayah Allah telah datang kepada kita tetapi kita yang abai.

Mungkin aku harus menoleh pada proses hijrah seseorang dulu sebelum berkaca pada diri sendiri. Wallahualam. Yang aku yakini, rencana dan takdir Allah pasti baik. Mari semangat berhijrah, berbenah diri menjadi lebih baik. Berhijrah karena Allah. Bismillah ...

Tuhan, ku percaya engkau pasti telah merencanakan yang terbaik untuk diriku. Agar ku tak jatuh dan selalu ada di jalan-Mu... - BCL


Saidah
Be First to Post Comment !
Posting Komentar